Patanjala

Lokalitas

Upaya Pelestarian Ketahanan Budaya

Oleh: Hayati Mayang Arum

Kita pergi sejenak ke negeri Jepang. Sepanjang pertokoan, perkantoran, nama jalan dan tempat-tempat umum identik dengan huruf-hurufnya; Hiragana, Katakana, atau kanji. Dengan kekhasnya, mereka mampu memancarkan nuansa segan dan elegan ketika pengunjung datang ke sana. Apa yang menjadi khas dari mereka, salasatunya adalah bahasa dan tulisan asli mereka.

Bercermin pada hal tersebut kenapa tidak, masyarakat Jawa Barat sebagai etnik yang memiliki kelengkapan unsur budaya yang memadai tidak menerapkan dan memanfaatkan kekayaan yang ada, dengan salasatunya turut menumbuhkembangkan peninggalan bahasa dan aksara sebagai daya tarik dan nilai jual pariwisata. Tidak semua daerah atau suku bangsa memiliki bahasa daerah atau bahasa etnik, begitupun dengan unsur strategis dalam melindungi dan menumbuhkembangkannya, tidak semua etnik mampu menciptakan unsur pendukung tersebut. Contoh unsur pendukung itu, salasatunya adalah lembaga pendidikan. Baik formal seperti sekolah, dan perguruan tinggi yang di dalamnya memiliki program bahasa daerah. Atau non formal seperti sekolah-sekolah yang dibuat oleh masyarakat, komunitas-komunitas dan sebagainya.

Sebagai warga Jawa Barat yang memiliki unsur terpenting dalam kebudayaan, yaitu aksara dan bahasa Sunda sebagai bahasa ibunya, sudah sepatutnya bangga dan menjaga keberlangsungan unsur terpenting tersebut. Ruang-ruang dalam unsur pendukung sudah terfasilitasi dengan adanya perguruan tinggi yang mengadakan program pendidikan bahasa dan sastra Sunda. Hal ini akan menjadi bekal untuk segera menghidupkan kembali urat nadi kepedulian terhadap budaya di Jawa barat.

Kontribusi Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah untuk Ketahanan Budaya Bangsa

Bahasa Sunda sebagai bahasa Ibu adalah bahasa yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat dan peranan seorang Ibu. Sejak ada dalam buaian Ibu, kesadaran mewariskan bahasa etnik dari seorang Ibu adalah hal yang sangat dinantikan karena kesadaran itu harus tertanam sedini mungkin demi keberlangsungannya bahasa dalam keadaan yang utuh. Kesadaran seorang Ibu terhadap pola asuh anaknya mesti sarat dengan budaya. Jadi salasatu jalan terbaiknya adalah seorang Ibu harus menyapa, mendoakan, menasihati, menyanyi, bercerita dan memarahi anaknya dengan bahasa etnik. Di sinilah peran dan fungsi seorang Ibu sangat berpengaruh terhadap pewarisan budaya, diamana Ibu adalah sosok yang begitu diagungkan seorang anak. Jadi otomatis pengaruhnyapun akan sangat besar dan cenderung lebih mudah memandu anak-anaknya menggiring pada kesadaran berbudaya dan berbudi pekerti yang tinggi.

Mengapa bahasa, sastra dan aksara daerah bisa memberikan kontribusi dalam ketahanan budaya bangsa?

Kita ketahui kalau sastra itu tumbuh sejak manusia itu sendiri ada. Begitupun dengan orang Sunda, jauh sebelum mengenal tulisan mereka sudah dekat sekali dengan dunia sastra. Yang ditandai dengan adanya sisindiran, kakawihan, dan dongeng. Hal tersebut menjadi salasatu bukti kuat peradaban, meskipun sisindiran, kakawihan dan dongeng adalah sastra lisan yang menyebar di masyarakat tanpa diketahui pengarang dan taun terbitnya. Perkembangan terus berjalan, perkembangan sastrapun semakin tumbuh dan didukung dengan adanya budaya tulisan di masyarakat. Dengan demikian peranan sastra, yang menurut bahasa adalah sebagai kitab suci atau kitab ilmu pengetahuan sangat terasa oleh masyarakat. Sastra dalam bentuk tulisan di Sunda adalah ditandai dengan adanya naskah Sanghiyang Siksa Kandang Karesian (abad ke-16). Kemudian, identitas Sunda muncul kembali melalui bahasa dan karya sastra pada jaman kolonial. Ditandai dengan didirikannya sekolah sekitar abad ke-19 dengan bahasa pengantarnya adalah bahasa Sunda. Hal ini berdampak cukup baik terhadap perkembangan bahasa dan sastra pada waktu itu.

Aksara Sunda adalah salah satu kebudayaan yang telah berusia cukup lama, secara historis lebih dari 16 abad yang lalu, kebudayaan Sunda memiliki kekayaan peninggalan kebudayaan berupa benda-benda bertulis, seperti prasasti, piagam, serta naskah kuno. Hal ini menunjukkan adanya kecakapan khusus dan tradisi tulis-menulis di kalangan masyarakat Sunda. Aksara Sunda kuno adalah akasara yang mendapat pengaruh atau memiliki tipe dasar dari aksara Fallawa Lanjutan. Hal ini ditandai dengan peninggalan naskah atau prasasti abad ke-14 an. Contohnya adalah Prasasti Kawali di Ciamis-Jawa Barat.

Aksara Sunda yang merupakan hasil karya ortografi masyarakat Sunda melalui perjalanan sejarahnya sejak sekitar abad 5 M hingga saat ini memang butuh perhatian husus dari masyarakat sebagai pemiliknya. Bukan hanya untuk dikenal oleh kalangan ahli tapi juga untuk berbagai lapisan masyarakat.

Peran fungsi bahasa, sastra dan tulisan adalah merupakan satu kesatuan penting dalam kehidupan dan peradaban manusia. Selain sebagai sebuah bukti peradaban, pula ketiganya memiliki peranan dalam ketahanan budaya sebuah bangsa. Ketahanan tersebut tercipta karena merupakan sebuah identitas suatu bangsa. Berkaitan dengan sejarah tradisi Sunda, maka bahasa memiliki peranan yang penting untuk menunjukkan eksistensi Sunda. Sedangkan aksara merupakan alat untuk menyampaikan bahasa tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa aksara Sunda dan bahasa Sunda telah menjadi media komunikasi tulisan yang menjadi kebanggaan masyarakat Sunda.

Menipisnya Pengguna Bahasa dan Aksara Sunda di Masa Kini

Keyakinan tentang akan bertahannya bahasa, satra, dan aksara Sunda dikalangan masyarakat Sunda, harus ditandai dengan kualitas dan kuantitas penggunanya. Bagaimana bisa yakin dengan kebertahanan tersebut jika penggunanya saja semakin kesini semakin berkurang. Walaupun pada kenyataannya bahasa dan aksara Sunda masih hidup, hanya saja statusnya sekedar masih bernyawa, tidak bisa “beraktifitas” secara lebih luas. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat Sunda yang terpengaruh oleh tamu-tamunya dari luar Sunda menggunakan bahasa Indonesia secara terus-menerus. Bukan pribumi yang memberi pengaruh, tapi justru pribumi yang terpengaruhi. Banyaknya kaum ibu muda yang tidak mau mengajarkan kesadaran berbahasa etnik selaku bahasa rasa atau bahasa ibu, kaum muda yang semakin gengsi berbahasa Sunda, kurangnya tenaga ahli dibidang pendidikan bahasa Sunda, dan lain sebagainya. Sedangkan bertahannya suatu bahasa tergantung kepada penggunanya.

Jika saja dibandingkan dengan salasatu tempat yang berbeda suku, masyarakat Sunda sepertinya agak tertinggal jauh dalam fanatisme bahasa. Jogjakarta umpamanya masyarakat di sana cenderung bersikeras mempertahankan bahasanya. Tak kenal itu di mall, pinggir jalan, dalam bis, dalam taksi, pasar, orang kaya atau miskin selagi orang yang diajak komunikasinya mengerti bahasa etniknya maka ia berbicara dengan bahasa tersebut, kecuali dengan tamu yang berkunjung. Rasa panatisme terhadap bahasa tersebut mungkin saja terpengaruh oleh pemerintah dan lingkungan masyarakatnya, tapi kenapa tidak untuk warga Tatar Sunda yang katanya memiliki bahasa terkaya diantara etnik-etnik lainnya.

Dalam segi kurangnya penutur bahasa Sunda di pusat pemerintahan Jawa Barat, (kota Bandung) kini semakin hari semakin meningkat. Khas Sunda dari segi bahasa di kota ini sudah tidak dirasakan kembali. Masyarakat yang semakin multikultural dan kurangnya pondasi manusia-manusia Sunda dalam hal pertahanan dari westrnisasi, adalah salasatu penyebab utamanya. Seharusnya, sebagai etik yang memiliki bahasa Ibu dan sudah memiliki payung hukum pada UUD 1945 pasal 36, BAB XV dan ditetapkannya 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional oleh UNISCO , sudah sepatutnya kita menghargai dengan cara sepenuh hati memperjuangkan bahasa Ibu tersebut.

Begitupun dari segi kurangnya pengguna aksara Sunda, hampir di setiap kota di Jawa Barat. Bahkan katakan saja Ciamis, sebagai cikal bakal ditemukannya standarisasi aksara Sunda kuno ke dalam bentuk unicode hampir tidak nampak rasa keiginpedulian dan melestarikannya secara utuh. Hal ini bisa dilihat dari tanda-tanda disepanjang jalan tidak pernah ditemukan plang jalan, nama toko atau nama lembaga yang menggunakan aksara Sunda. Begitupun dengan masyarakat, pelajar bahkan guru bahasa Sundapun tidak semua mengenal aksara Sunda tersebut, hanya sebagian kecil guru bahasa Sunda saja yang mengenalnya. Itupun tidak seutuhnya karena mereka masih beranggapan kalau aksara Sunda asli itu adalah aksara cacarakan (hanacaraka).

Dalam segi sastrapun, kelihatannya mengalami penurunan. Masih kurang sekali buku-buku terbitan dalam bahasa Sunda, terutama dari kalangan generasi muda. Padahal sastra merupakan salasatu wadah berekpresi dan wadah penyampaian pendapat secara indah yang isinya tersirat. Sastra juga bisa dijadikan sebagai wadah berdakwah, memberi pepatah atau sebagai hiburan. Sastra adalah menuangakan bahasa dalam bentuk tulisan, dan ini akan menjadi sebuah bukti perkembangan peradaban manusia.

Upaya untuk Keberlangsungan Unsur Budaya Secara Utuh

Dengan bercermin pada sejarah, perkembangan dan pertimbangan di atas, maka revitalisasi bahasa, sastra dan aksara Sunda setidaknya harus terus dilaksanakan dan dijadikan jembatan untuk membawa nama baik Jawa Barat. Karena kita akui untuk menuliskan berbagai perjalanan sejarah budaya Sundapun sangat memerlukan bahasa dan aksara. Budaya Sunda yang merupakan bagian dari keanekaragaman budaya di Indonesia sudah waktunya dijadikan pengokoh.

Pemeliharaan bahasa, sastra dan aksara Sunda akan berkontribusi pada upaya peneguhan ketahanan khususnya budaya Jawa Barat, umumnya budaya bangsa Indonesia. Kita tidak bisa tinggal diam menipisnya ke-tiga unsur utama budaya tersebut terus berkelanjutan. Setidaknya kita ada usaha untuk melestarikan dan merubah keterpurukan tersebut menjadi sebuah batu loncatan menuju derajat yang lebih tinggi.

Upaya yang ingin ditawarkan untuk Jawa Barat dari kasus menipisnya pengguna bahasa, sastra dan aksara Sunda adalah dengan cara terus-terusan mengajak dan mengampanyeukan betapa butuhnya pelestarian ke-tiga unsur tersebut. Baik kepada pelajar, masyarakat umum atau lembaga pemerintahan. Hal ini akan lebih terasa gemanya jika mengadakan kerjasama anatara pemerintah, dan unsur masyarakat baik oleh individu yang mengerti akan kebutuhan budaya, pemantapan bersama guru-guru bahasa Sunda, budayawan, seniman dan para orang tua. Mengadakan pelatihan-pelatihan bahasa, sastra dan aksara Sunda. Dengan cara ini masyarakat mengenal, dan karena kenal itulah akan timbul rasa cinta untuk mlestarikannya.

Terus-terusan menumbuhkembangkan rintisan sekolah alam saya, Sakola Alam Jagat yang berdiri dengan konsep lokalitas. Menyajikan pengetahuan local wisdom baik secara historis atau secara keterampilan dan harta budaya lainnya. Hal ini juga bagian dari pemanfaatan latar belakang saya sebagai calon lulusan sarjana pendidikan dan hobi saya sebagai penggiat komunitas dalam bidang media dan pendidikan.

Mengadakan roadshow bersama team work di komunitas ke setiap daerah yang masih kurang kesadaran dan kurang mengenal ke-tiga unsur budaya tersebut. Roadshow ini berisi tentang penyampaian pengertian, penjelasan, dan ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap bahasa, sastra dan aksara Sunda.

Mengdakan kongkow budaya bersama pelajar ke situs-situs atau tempat sejarah. Dengan cara mengenalkan jenis tulisan dan belajar bersama-sama membacanya dan mengungkap sejarah dsekitarnya.

Melanjutkan kembali perjuangan ajakan kerjasama kepada pemerintah mengenai pebuatan plang jalan, toko, nama situs, tempat wisata, nam hotel, dan nama lembaga-lembaga menggunakan aksara Sunda. Hal ini ingin saya wujudkan minimal di kotaku, Ciamis demi terciptanya daya tarik wisata yang asik dan khas. Memanfaatkan kekayaan yang ada berupa aksara dan bahasa, juga sebagai wadah atau sarana pengenalan kepada khalayak banyak yang efektif dan efisien. Multifungsi pemanfaatan seperti ini sedang terus-terusan dirintis dan dicoba dengan cara melakukan hal-hal kecil, berawal dari lingkungan sendiri. Dengan menggunakan aksara sebagai ide pembuatan aksesoris dan kerajinan tangan, membuat kerjasama dengan juru pelihara situs untuk membuat plang nama berkasara Sunda, mengajak pedagang disekitar alun-alun kota untuk mengunakan aksara Sunda pada menu makanan dan nama tokonya, atau bekerjasama dengan lembaga-lembaga masyarakat dan komunitas untuk mejadikan aksara Sunda sebagai media penulisan identitasnya. Pernah pula memberikan hadiah berupa plang jalan kepada bupati Ciamis dan gubernur Jawa Barat untuk menjadi bahan pertimbangan mereka.

Keinginan besar saya dan kawan-kawna terhadap pelestarian ke-tiga unsur budaya itu adalah ingin diwujudkan melalui mengadakan progres pembangunan Sakola Alam Jagat sebagai pondasi pengaderan dan regenerasi remaja terhadap penguatan tali raga katineung terhadap budayanya. Didalamnya terdapat perpustakaan yang memuat buku-buku bacaan berbahasa Sunda, dan kegiatannya mengacu kepada pembuatan media infomasi berbahasa Sunda. Lalu ingin memanfaatkan ke-tiga unsur budaya tersebut menjadi sebuah daya tarik wisata dengan cara menuangkan harta budaya berupa aksara ke dalam aneka ragam kerajinan dan karya seni, baik itu cindera mata, pakaian, ukiran, lukisan, kaligrafi, gantungan, hiasan dinding dan sebaganya. Serta memboomingkan aksara Sunda di setiap sudut-sudut kota dipadukan dengan arsitektur dan ukiran tulisan yang variatif sehingga kelihatan indah dan muncul nuansa khas.

Sebuah ide dan aksi kecil yang dapat kami lakukan adalah salasatu cita-cita besar yang ingin diwujudkan dan dikemas sebagai wujud rasa cinta dan peduli terhadap budaya. Semoga menginspirasi dan mau bekerjasama.

Dokumentasi :

Gambar  Gambar

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: