Patanjala

Lokalitas

Naskah Masih Dianggap sebagai Benda Pusaka di Masyarakat

Oleh: Hayati Mayang Arum

Naskah-naskah kuno merupakan sebuah mahakarya yang diciptakan oleh para pendahulu kita. Naskah kerap dijadikan sebagai benda-beda yang dianggap sakral bagi sebagian besar masyarakat yang kebetulan memilikinya. Naskah juga dianggap sebagai ajimat atau benda mistik yang keberadaannya harus di spesialkan dan banyak pantangan-pantangan atau tatacara memperlakukannya. Yang terkadang, kemudian dari mitos-mitos mistik yang tumbuh dan melekat di si pemilik naskah tersebut, akhirnya menjadi salah kaprah dan membuat naskah tersebut kurang terawat sebagai mana mestinya dan rusak sebelum ada yang membaca atau menerjemahkannya ke dalam aksara latin dan bahasa sekarang.

Sebagian besar masyarakat yang memiliki naskah biasanya beranggapan bahwa benda tersebut jangan sampai banyak orang yang tahu, dan tidak pula dibuka oleh sembarang orang. Kalaupun dibuka biasanya dalam kurun waktu tertentu dan dalam upacara atau ritual tertentu. Bagi sebagian orang yang membutuhkan data sejarah atau data-data lain terkait dengan budaya dan peradaban, hal tersebut menjadi kesulitan untuk meneliti dan menyambungkan benang merah dari sumber satu ke sumber lain, karena tidak dapat dipungkiri bahawa sumber tertulis merupakan sumber primer untuk mengetahui perkembangan, periodisasi ataupun ataupun data-data lain dalam penelitian sejarah dan budaya.

Kepercayaan masyrakat seperti itu bisa jadi salah satu keuntungan, agar tidak terjadi kehilangan ataupun kerusakan akibat sering  dibuka oleh banyak orang. Namun yang terjadi malah sebaliknya, akibat dari kurangnya wawasan dan cara pengamanan naskah dari gangguan-gangguan seperti hewan, temperatur suhu, dan lain sebagainya, justru hal tersebut menjadi bumerang bagi keutuhan naskah itu sendiri. Tidak sedikit naskah yang disimpan di masyarakat yang keberadaannya sangat disakralkan tersebut rusak dan tak bisa dibaca lagi. Salah satu contoh adalah naskah yang ditemukan di Cijenuk, Cililin yang dimitoskan jika ada yang membuka maka yang membuka peti naskah tersebut akan meninggal dunia.

Namun, situasi masyarakat seperti itu tidak lepas dari alasan-alasan tertentu. Baik itu alasan tradisional yang diwariskan dari pewarisnya atau alasan lain, seperti akibat dari kurangnya kepercayaan pada orang yang hendak membukanya. Biasanya masyarakat yang tidak mengijinkan membuka naskah tersebut karena krisis kepercayaan, akibat takut kehilangan, jika ada para ahli yang ingin menangani mereka takut hanya untuk kepentingan pencitraan dirinya sendiri dan tidak serius dalam pengerjaan penelitiannya sehingga mereka takut naskahnya dicaliweurakan dan takut si pemilik tersebut mendapat kutukan dari leluhurnya. Selanjutnya terlalu percaya pada mitos, sehingga walaupun mereka tidak tahu isi dan makna dari naskah tersebut mereka tetap percaya dan patuh. Situasi seperti ini sudah seharusnya ada pelurusan dari para ahli  atau orang-orang yang sudah dulu lebih tahu. Tentu saja untuk mempermudah dan memperkaya sumber informasi dalam penelitian dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan keilmuan. Sebab naskah bukan untuk dipuja, tetapi untuk dibaca dan dimanfaatkan dari apa yang tersurat di dalamnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: