Patanjala

Lokalitas

Naskah Gandoang-Wanasigra (Ciamis)

Oleh: Hayati Mayang Arum

Sekali lagi, petualangan dimulai. Adalah sebuah perjalanan menuju Wanasigra kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, untuk bertemu dengan sebuah karya hasil kecerdasan orang-orang tua atau leluhur, yang merupakan salah satu dari kekayaan budaya Nusantara, berupa manuskrip. Data keberadaan naskah ini ditemukan oleh salah satu pengusrus museum, dalam catatannya menyatakan bahwa pernah terdata naskah di Wanasigra.

Belajar dan mencari tiada henti, adalah sebuah prinsip. Dimana kita adalah sosok yang harus terus mencari berbagai sumber tertulis dan terus belajar untuk terus-terusan mencoba membacanya, hingga benar-benar terbebas dari yang namanya buta huruf. Sehingga kita akan tahu dan mengerti apa isi dari naskah tersebut, dengan harapan ke depan kita bisa memanfaatkannya dalam kehidupan. Karena walau bagaimanapun juga, naskah adalah sebuah catatan berharga, dimana di dalamnya terdapat banyak ide cemerlang dan tatacara kehidupan yang prisipil. Dan kita bisa mengambil sebagian pengetahuan yang dianggap relevan dalam hidup kekinian.

Sebut saja naskah Gandoang. Naskah yang sudah hidup lama dan turun-temurun, tetapi belum ada satupun yang membacanya. Keberadaanya tak lebih hanya sebagai benda yang dianggap keramat dan pusaka, sama halnya dengan benda-benda lain yang ditemukan di sana.

Warga Wanasigra, adalah warga yang selamanya diikuti rasa kepenasaran tentang apa isi dari naskah tersebut. Sejak lama mereka merindukan sosok yang mampu membuka misteri dalam manuskrip itu dengan harapan, bisa ditemukannya data baru mengenai sebuah pencarian sejarah sebuah situs, yang sampai sekarang situs tersebut masih menjadi situs yang penuh tanda tanya. Atau setidaknya ada wawasan baru yang mereka ketahui untuk mempertemukan benang merah tentang asal-usul leluhur mereka.

Keberadaan naskah kini sudah menghawatirkan, karena mungkin akibat usia dan perawatan yang kurang memadai sehingga mudah terserang jamur, dan adanya hewan serupa kutu yang merusak naskah hingga banyak yang sudah bolong.

Dari hasil inventarisasi naskah, berikut adalah sebagian data sementara yang berhasil diidentifikasi dari naskah tersebut. Jenis aksara atau huruf adalah cacarakan, bahasanya kemungkinan Jawa atau bahasa Cirebon, mengingat huruf yang terdapat dalam naskah adalah huruf khas dalam naskah-naskah Cirebon. Ukuran naskah 15x12cm, ruang tulisan: 1,2 cm, dan berjumlah 36 halaman. Halaman kosong ada 3 halaman; 1, 13, 36 yang ditulisi hlm: 2-12, 14-35. Penomoran halaman 1-36 dengan aksara latin, mungkin oleh si pemilik atau ahli waris naskah terdahulu dikasih halaman dan dikasih jilid, kemungkinan tersebut ditandai dengan adanya keterangan; “Naskah dijilid tahun 18/12/1993”. Kondisi fisik naskah, halaman satu, dan tiga belas kosong, halaman 2-24 cukup bagus, 25-36 rusak.

Berikut adalah jumlah baris pada setiap halaman:

Jumlah Baris Halaman
Kosong 1, 13, 36
4 12
5 3
6 14, 15
9 11, 18-27, 29, 32
10 2, 4, 5, 6, 7, 28, 30,31, 33, 34, 35
12 16, 17
13 8, 9, 10,

Bahan naskah, diperkirakan kulit tumbuhan saeh, yang memiliki nama latin Broussonetia papyrifera, mengingat jenis kertas pada naskah ini adalah daluang atau dluwang atau ada juga yang menyebut daluwang. Daluang merupakan bahan, yang sejak dulu dijadikan media tulis oleh leluhur. Biasanya tehnik penulisan pada daluang adalah dengan kolaborasi mangsi alami, yang disebut mangsi gentur.

Asal dan Riwayat Naskah:

Naskah ini merupakan barang turun temurun, mulai dari Aki Haji Mahmud, yang merupakan kuncen pertama situs Gandoang, Eyang Singanata, Aki Sanhawi, Aki Sanhori, Bapak Sarwapi, Bapak Suhroji, Bapak Harja, Pak Lurah Oon, dan yang terakhir naskah tersebut disimpan di Pak Lili. Pemegang naskah terus-terusan oleh juru kunci yang diwariskan turun-temurun, dan hanya Eyang Singanata, juru kunci panyelang, sebelum kemudian dteruskan kembali oleh keturunan Aki haji Mahmud.

Dengan adanya identifikasi sementara pada naskah ini, diharapkan kedepannya seiring berjalannya waktu dan proses, apa yang diharapkan oleh masyarakat Wanasigra berupa translitasi naskah ini dapat terwujud secepatnya, seperti halnya naskah tembaga yang ditemukan disana, serta telah lebih dulu ditranslitasi dan dimuseumkan, di museum Sribaduga.

Berikut adalah beberapa halaman demi halaman naskah Gandoang asli:

Halaman 34-35 situasinya sudah rusak parah

Halaman 22-23  kondisinya masih utuh dan   bisa dibaca utuh

Halaman dua dan tiga sudah ada bekas terkena air

Halaman 2 dan 3 rusak dan sudah ada bekas terkena air

???????????????????????????????

Halaman 34-35 konsisi fisiknya rusak dan sulit terbaca

Halaman 12, dan 13 kosong

Halaman 12, dan 13 kosong

Salinan naskah sebelumnya (Yang terbuat dari tembaga) dan Sudah di translitasi.

Salinan naskah sebelumnya (Yang terbuat dari tembaga) dan Sudah di translitasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: